Zakat dan Implikasinya dalam Kehidupan Sosial

Penulis: Kang Arman

Shalat merupakan tiang agama Islam dan puasa adalah benteng bagi orang yang menjalankannya. Adapun zakat adalah sebagai sarana pembersih jiwa seseorang  agar terhindar dari penyakit bakhil (kikir), penyakit ini merupakan penyakit yang tercela dan harus  diperangi dalam diri setiap umat manusi. Ibadah ini dituntut karena keberhasilan seseorang meraih kesuksesan tidak terlepas dari keterlibatan pihak lain di tengah-tengah kehidupan masayarakat.

Zakat  tidak terbatas hanya  pada zakat fitrah  saja, melainkan terhadap barang-barang yang bergerak maupun benda-benda mati dan diwajibkan jika telah sampai pada  nisab dan hawlnya seperti:  zakat mal (harta benda), sawah ladang, tanaman buah-buahan, binatang peliharaan dan ternak, emas, perak, perniagaan, bangunan seperti perkantoran, tokoh-tokoh maupun mal-mal  dan juga zakat profesi seperti (guru, polisi, hakim, dosen dan lain sebaginya).

Fungsi zakat di antaranya adalah  mengembangkan harta benda, karena dengan memberi kepada yang membutuhkan, daya beli pasar bertambah dan produksi dapat ditingkatkan. Zakat bisa diwujudkan dengan bentuk modal kerja dengan harapan seseorang yang butuh dapat beralih dari mustahiq menjadi muzakki.   

Dengan zakat menjadikan harta muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) akan tumbuh berkembang dan berkah. Yang dimaksud berkah di sini bukanlah dilihat dari nominalnya (banyak dan sedikitnya) melainkan bermanfaat dan melimpahnya kebaikan bagi muzakki. Salah satu ayat yang merekam hal ini adalah firman Allah: Sungguh beruntung orang-orang yang telah mensucikan jiwanya (as-Syams : 09). Zakat tidak menjadikan muzakki jatuh miskin, bangkrut maupun gulung tikar dari perusahannya sebagaimana hal ini merujuk pada pengertian  zakat secara bahasa yaitu: at-Thathir wa al-numuw (mensucikan dan berkembang).

Pada zaman Khalifah Abu Bakar as-Sidiq  dan Umar al-Faruq  keduanya telah memerangi orang-orang yang tidak membayar zakat. Pada zaman sekarang bisa diaplikasian untuk memeranginya  dengan cara melakukan sosialisasi pentingnya zakat dan ancaman bagi orang yang meninggalkannya baik melalui media elektronik, cetak dan jejaring sosial maupun dari satu mimbar ke mimbar lain. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al-Thabari: orang-orang yang menahan zakat  itu  (tidak melaksanakan zakatnya) pada hari kiamat kelak akan berada di dalam neraka.

Bakhil (Kikir) merupakan sifat yang tercela baik di mata manusia, terlebih lagi di mata Allah SWT. Hal ini dengan tegas dipaparkan  dalam al-Qur’an bagi  mereka yang bakhil (kikir)  tehadap harta mereka digambarkan  akan dikalungkan harta benda mereka  pada hari kiamat.

Dalam menyalurkan zakat akan melibatkan  tiga golangan. Pertama Muzakki: orang  yang  mengeluarkan zakat  dengan niat  membersihkan harta dan jiwanya dari sifat rakus dan tamak. Dalam surah at-Taubah 103 dijelaskan: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. Ayat tersebut  menjelaskan bahwa yang dizakatkan adalah hanya sebagian dari harta yang diperoleh bukan keseluruhan yang  dimiliki Muzakki  disalurkan ke dalam  zakat. Tentunya harta yang dizakatkan adalah yang diperoleh dari cara yang halal dan dihalalkan dalam Islam, tidak dibenarkan menyalurkan  zakat dengan cara yang haram dan diharamkan dalam Islam dan hendaknya yang baik kualitasnya sehingga dalam berzakat hendaknya dihindari pemberian yang kualitasnya buruk. Hal ini ditegaskan dalam surah al-Baqarah ayat 267, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkkanlah di jalan Allah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dari hasil usaha kamu dan dari apa yang kamu keluarkan dari kamu dari bumi. (hasil bumi/pertanian) Dan juga berdasarkan hadits Nabi Muhamad saw: Sesungguhnya Allah itu baik, Dia tidak menerima, kecuali yang baik  (HR. Muslim).

 Kedua  Amil zakat: orang yang menyalurkan zakat. merupan perantara atara Muzaki dan Mustahik (orang yang berhak menerima zakat). Ketiga Mustahik, yang mencakup Fakir, Miskin, Amil zakat, Mualaf, Rikab, Gharim, Fisabililahi, Ibnu Sabil. Mampu memberikan sandang, panggan mapan bagi mereka dan memotivasi Mustahik  agar kelak dia juga sebagai Muzaki.

 

Hikmah zakat di antaranya sebagai berikut:

  1. Penyempurna rukun I Dalam hadist, Nabi Muhamad saw bersabda: Islam dibangun atas lima pilar, yaitu kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhamad adalah seorang hamba dan utusan Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat; menunaikan ibadah haji dan puasa Ramadhan (HR. Muslim).
  2. Zakat sebagai lambang solidaritas dan kesediaan memberi “hidup” kepada  siapapun yang membutuhkan. Sebagaimana yang  dermawan membutuhkan yang miskin, antara lain guna menjunjung kelemahan fisiknya. Sebaliknya yang miskin pun membutuhkan yang dermawan  untuk menunjang kebutahan materialnya.
  3. Pemberi lebih mulia dari pada yang meminta-minta sebagaimana dituturkan dalam untaian kata hikmah: Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah.
  4. Salah satu ibadah yang menyebabkan hamba-Nya masuk ke dalam surga. Sekian banyak hadits Nabi Muhamad SAW  seputar keutamaan orang yang menunaikan zakat dengan balasan surga-Nya. Di antara contoh sabda nabi tersebut adalah “Seorang laki-laki mengahadap Rasululaah seraya berkata: wahai Rasulullah, informasikan kepadaku amal (perbuatan) apa yang  menyababkan aku masuk surga, Rasulullah berkata: Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan segala apapun, tegakkan shalat, tunaikan zakat dan menyambung tali silaturahim. (Muttafaqun ‘Alaihi).
  5. Sebagai penyempurna puasa Ramadhan. Tidak menutup kemungkinan umat Islam selama  menjalankan  puasa  Ramdhan  tidak mampu mengontrol gejolak emosinya untuk  melakukan ghibah, namimah  dan melakukan ma’siat-ma’siat  kecil sehingga dengan zakat fitrah akan menambal kekurangan-kekurangan tersebut.  Sabda  Nabi:   Nabi saw  telah diwajibkan zakat  fitrah  sebagai  pembersih  orang yang berpuasa dari omongan dan perbuatan yang kotor, dan sebagai suatu hidangan bagi orang fakir miskin (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud dan Hakim).

Demikian zakat yang diperintahkan oleh al-Qur’an karim dan Sunnah Nabawiyah sehingga menjadikan seseorang yang tidak mampu beralih status menjadi mampu, bahkan zakat dapat diberikan kepada yang mampu mengelola keuangan dalam bentuk tunai sehingga terpenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian zakat menjadi solusi untuk  mengentaskan kemiskinan walapun sekali lagi bukan itu cara yang terbaik yang diajarkan dan dianjurkan dalam Islam.

Wallahu A’lamu bishawab…..