UJIAN DI PONDOK PESANTREN

UJIAN DI PONDOK PESANTREN

By Mudzakkir Mukti

Santri, santri adalah sebuah nama yang di sematkan kepada seorang yang menimba ilmu di lingkungan pondok pesantren. Kehidupan disana sangatlah beragam. Dari susah, senang, dan lainnya. Dan kita di didik untuk bisa memahami sifat atau ras dari berbagai kalangan, juga diajarkan untuk selalu bersama. Dan dari bersama tersebut akan menciptakan ukhuwwah yang harmonis

TENG…TENG…TENG!

Waktu telah menunjukkan pada pukul 17.15. Pengurus bagian keamanan bergegas untuk menertibkan santri, terdengar suara lantang, “ONE..TWO…THREE…” yang dipadukan dengan lantunan ayat suci Al-qur’an. Para santri pun berlarian seolah ingin diterkam oleh singa yang kelaparan, takut akan dikenakannya sanksi oleh bagian keamanan. Tak ayal satu-dua-tiga diantara mereka terkena sanksi karena keterlambatannya.

Detik demi detik, menit demi menit telah berlalu bagaikan belaian angin yang luput dari dedaunan. Tak terasa waktu telah menunjukkan pada pukul 20.15. Kala itu adalah malam terakhir karena esok adalah hari pertama ujian bagi santri. Mereka pun telah melakukan persiapan yang matang untuk menghadapi hari esok. Tak heran dari mereka meminum secangkir kopi untuk menangkal rasa ngantuk. Dari timur ke barat, selatan ke utara lingkungan pondok dipenuhi dengan hiruk pikuk suara para santri yang sedang belajar. Beragam cara mereka belajar. Entah berjalan,berdiskusi, ataupun belajar secara individu. Semua itu dilakukan dengan fashion masing-masing dari mereka. Hingga pada pukul 23.00 sebagian dari mereka telah terlelap dan sebagian lagi masih bertahan dengan buku dan secangkir kopi, juga ditemani dengan semilir angin malam yang membelai lembut pada setiap insan.

PROK…PROK…PROK!

Suara tangan yang saling beradupun membangunkan santri, yang kemudian bergegas untuk mengambil air wudhu guna bermunajat kepada sang Illahi agar diberi kemudahan dalam menghadapi ujian.

Jam telah menunjukkan pukul 7 pagi, para santri pun telah duduk rapi di bangku masing-masing. Ditemani dengan sebuah pena untuk menghadapi ujian. Mereka dengan fokus membaca,menulis,menela’ah dan memeriksa ulang jawaban yang telah ditulis di lembar jawaban. Tak lama kemudian, bel pun telah berbunyi sebagai tanda bahwasanya para santri telah di perbolehkan untuk meninggalkan kelas mereka masing-masing. Ada yang Nampak ceria karena merasa yakin dengan ujian yang telah di hadapinya, adapun yang Nampak murung karena menyesal terhadap ujian yang telah di hadapinya

Hari demi hari telah berlalu. Ujian pun telah berakhir. Mereka pun bersujud syukur secara berjamaah karena telah terlaksananya ujian. Lain halnya dengan sebagian dari mereka diluar sana yang mewarnai bajunya sebagai tanda akhir ujian. Dan kewajiban mereka hanyalah bertawakal kepada  Sang Kholiq untuk menerima hasil dari apa yang telah diusahakan. Inilah masa-masa santri ketika ujian, karena ‘Sebaik-baiknya waktu adalah ketika menuntut ilmu”.