SUNGAI AIR MATA

SUNGAI AIR MATA

Ada kalanya kehidupan menjadi aneh dan tidak bisa diterima akal.

Jauh di lautan lepas, Suatu pulau nampak indah dan luas untuk ditinggali. Apalagi dikunjungi untuk meluaskan pengalaman hidup dengan melihat jelas mentari yang turun takhta dari langit, beriring dengan gemerlap mega sendu di waktu sore. Hingga pula purnama menyambut dengan milyaran pasukan kecilnya, bintang-bintang. Langit pun berubah indah dan ramai. Suara-suara serangga muncul di keheningan. Siapa juga yang tak ingin menikmati pemandangan itu?

Sayangnya tidak semua orang bisa berkunjung. Begitu seseorang menginjakkan kaki di sana, selamanya dia takkan bisa kembali. Hukum telah mengekang manusia-manusia di sana untuk kembali ke tempat asalnya. Namun mereka senang. Disana pun didirikan desa. Dan kehidupan berlangsung damai sekali.

Ada sebuah sungai di desa itu yang menjadi ciri khas utama. Air nya benar-benar jernih layaknya telaga. Itulah yang menjadi pusat kehidupan pada masyarakat. Orang-orang memenuhi kehidupannya di sungai itu, memancing ataupun mengambil air. Juga untuk melakukan hal yang tidak benar.

Tiap malam purnama, orang-orang akan pergi ke sungai tersebut.  Apa yang mereka lakukan?  Berpesta? Memancing bersama-sama?  Tidak. Itu buruk.  Mereka menyembah Sungai tersebut layaknya Tuhan yang kuasa. Seakan halnya tanpa itu Mereka takkan bisa hidup. Kemudian secara serentak orang-orang itu akan menangis bersama-sama, menghiasi sungai dengan air mata. Inilah apa yang disebut Sungai Air mata.

Adakah manusia yang masih memiliki kesadaran? Adakah yang memandang salah adat itu? Tentu saja. Pelaut yang terdampar itulah jawabannya. Bersama hantaman Badai, Ia tenggelam, tanpa sadar terbawa hingga sampai kesana. Dan akhirnya orang-orang pun membawanya ke desa itu. Ia menjadi bagian dari rakyat.

Rusdi namanya. Berkecimpung dalam orang-orang  yang sedemikian itu, ia merasa risih. Terutama ketika para warga mengajaknya untuk melakukan dan mengikuti Adat tersebut, menyembah benda mati. Ia pun selalu menolak setiap ajakan. Tapi karena belum putus asa, seseorang pun mengajaknya lagi ketika Rusdi berada pada pasar desa.

“Kenapa Kau Enggan, Rusdi? Ikutlah kami. ” Ajak seseorang. Rusdi masih diam dan tidak menjawab.

“Kau pasti tahu kan enaknya bergabung. Banyak makanan yang bisa kau makan… ”

Dia memandang Rusdi, mencoba melihat reaksinya. Lelaki itu memalingkan muka. . Baginya bukan soal makanan yang enak-enak dan menggugah selera. Namun ini soal kesalahan dan persekutuan Tuhan. Dosa yang sungguh besar.

Akhirnya Rusdi pun menolak, “Aku takkan pernah mau. ”

Orang-orang di pasar mulai tertarik. Beberapa memperhatikan dialog keduanya. Bahkan ada yang mendekat. Rusdi mulai bimbang dan merasa risih. Namupengajak tadi tak peduli sama sekali. Ia mulai merasa jengkel terhadap tolakan itu. Entah berapa kali lagi Ia harus mengajak hingga Rusdi mau mengikuti.

Ia berusaha melembutkan nada bicaranya, walau hatinya penuh kejengkelan, “Kenapa kau tidak mau Rusdi? Kenapa? ”

Akhirnya Rusdi pun menoleh dengan agak bimbang. Orang-orang menyaksikan dialog mereka. Tapi Rusdi nampaknya juga merasakan kejengkelan yang sama seperti Lelaki tersebut.

“Itu tidak penting. Tidak ada gunanya.” Akhirnya hanya kata itu yang bisa diucapkannya. Orang-orang terbelalak kaget dengan apa yang baru saja didengar dari mulut si Pelaut tersebut.

Suara bincang-bincang mulai terdengar di sekeliling mereka. Entah telah berapa orang yang berkerumun mengelilingi keduanya begitu mendengar kata-kata Rusdi itu.  Semuanya merasakan gejolak emosi di hati dari perkataannya tadi.

Kondisi berubah buruk. Orang-orang memandangnya nyalang seakan bersiap menghajar.  Rusdi mendadak cemas dan resah. Apalagi suatu teriakan terdengar dibalik kerumunan manusia tadi,

“KATAKANLAH, MANUSIA TERKUTUK, KATAKAN LAGI UCAPANMU TADI! ”

Semua pihak langsung diam, baik Rusdi dan lelaki yang mengajak itu maupun Orang-orang. Semuanya menoleh kesebalik kerumunan. Seseorang berpakaian adat muncul dan menghadap Rusdi. Dia Tetua desa.  Suasana berubah tegang.

“Katakan ucapanmu tadi, Manusia terkutuk! ” ucapnya menghadap Rusdi.

Satu kebencian dan kemarahan menaburi hati Rusdi. Dia benar-benar penuh emosi disebut manusia terkutuk. Sirnalah seluruh rasa takut dan cemasnya tadi.

Tetua desa itu menampar pipi Rusdi. Suara tamparan yang keras pun terdengar.

‘KATAKAN!”

Bertambahlah kemarahannya hingga Rusdi mengerahkan kakinya sampai Tetua itu tersungkur jatuh. Beberapa orang pun berhamburan menolong.

“KAU ADALAH MANUSIA YANG TAK TAHU KEBENARAN!  KAU MENYEMBAH BENDA MATI YANG TAK BERGUNA!  AKALMU MATI! AKAL KALIAN MATII!!!!!!!. ” pecahlah emosinya.

Orang-orang sejenak menatap Lelaki itu. Kemudian serentak mereka semua menghajar lelaki tersebut hingga tak sadar. Dan akhirnya dibawalah Rusdi ke sebuah penjara pusat desa dalam keadaan pingsan tanpa memberikan pengobatan sama sekali. Namun begitu pun, Dia akhirnya sadar tak begitu lama setelah dikunci dan dibawa dalam Penjara itu.

Dan Rusdi menjalani hidupnya dibalik jeruji kayu rimba. Andai ada seorang yang berlalu, Ia akan melempari lelaki itu dengan batu kecil karena kebencian. Emosi Rusdi kala itu telah menjadikannya dibenci di seluruh penjuru desa dan masyarakat.

Disana tak ada kata kenikmatan. Makan pun hanya sisaan dari orang-orang. Biasanya ada yang mau memberikan Buah-buahan busuk kepadanya. Rusdi menerima dan memakan semua itu. Hingga Ia merintih perih akibat perutnya yang teracuni makanan basi.

Belum lagi semua hinaan dan cacian ketika Orang-orang berlalu di depan penjara. Semua itu benar-benar menyakiti hatinya. Namun dengan tersenyum Rusdi berusaha sabar.

“Semoga ini cepat berakhir. ”

Dia menatap malam yang penuh dengan Keindahan. Bintang-bintang hadir di langit. Ditambah lagi dengan sang Purnama yang ikut meramaikan malam. Terlihatlah langit seakan siang hari.

“Aku tahu ini sulit. ” Rusdi menangis tersedu-sedu di malam larut. Kesedihannya memuncak hingga tak mampu bersabar.

“Tapi Aku tahu dalam kesulitan ada dua kemudahan. ”

Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Matanya memejam dan berlinang air mata, “Berilah Aku kemudahan, Tuhan… ”

Suara serangga malam terdengar nyaring dan indah. Orang-orang telah tertidur pulas, kecuali lelaki itu.

“Aku ingin keluar dari tempat yang hina ini… ”

Ia memandang bulan purnama dan bintang-bintang itu. Juga hamparan samudra di kejauhan. Kesedihannya memunculkan satu ide baginya.

“Benar! ” Rusdi mengusap air mata, “Aku harus melakukannya. ”

Ia menggenggam jeruji itu dengan mata menatap ke samudra, “Aku tahu apa yang harus dilakukan. ”

Dia tersenyum yakin sambil menyeka air mata,

“Aku akan lari! ”

Lelaki itu pun menemukan tekad barunya.

Dua hari pun berlalu, Rusdi dibebaskan dari penjara. Dia pulang ke Rumah kosong bekas orang-orang, kediamannya di desa. Maki-makian mengiringi langkahnya kesana. Tapi demikian, Rusdi tidak berkecil hati.

Ia membulatkan tekad, kemudian menyusun rencana. Satu malam itu dihabiskannya untuk berfikir soal pelariannya dari desa. Yang mana seseorang yang telah menginjak tanah Pulau itu tak diijinkan untuk pulang kembali ke tempat asalnya, kecuali beberapa orang yang diijinkan melaut. Yah, dia harus melanggar aturan. Ini demi kebaikan.

Malam berikutnya yaitu hari sakral bagi para Penduduk dalam ritual mereka menyembah sungai itu. Sebuah gerobak penuh makanan pun dibawa untuk dibagikan kepada yang hadir. Tak lama mereka sampai di Sungai. Dan malam itulah Rusdi melancarkan aksinya.

Mula-mula ia mengendap-endap dari rumah ke rumah, perlahan-lahan. Melalui pohon-pohon berbalut kegelapan Ia bisa menghindari rombongan Penduduk kedua yang menyusul rombongan pertama untuk melakukan tradisi yang sama. Rusdi  berhasil sampai ke tengah desa, tempat sungai itu berada.

Tapi kesalahan terjadi. Melihat situasi aman ketika para Penduduk masih khusyuk dalam melakukan penyembahannya, Ia pun keluar secaa terang-terangan. Namun siapa sangka ada satu orang yang menjaga. Hingga Rusdi tertangkap mata. Ia segera dipergoki.

Lelaki itu tak mampu menyanggah. Hingga akhirnya dibawa ke Tetua desa ketika tradisi telah usai dan akan membagikan makanan.

Bukan main ternyata marahnya Sang tetua, termasuk orang-orang yang berada disana. Hingga teriakan orang-orang pun menggelegar.

“BAKAR!  BAKAR SAJA MANUSIA ITU! ”

Sayangnya orang-orang sepakat. Semuanya saling mengiyakan. Rusdi mendadak takut dan tegang.

“Akan aku ikat dia! ”

Sang tetua pun hendak mengikat Rusdi dengan tali yang didapatkan dari dalam gerobak. Karena panik, Rusdi malah melawan dan menghempaskan tubuh kurus Sang tetua hingga menabrak gerobak yang terpakir di pinggir sungai. Benda itu pun terguling dan jatuh ke sungai sekalian isinya, menjadikan air yang semula bening menjadi keruh.

Terdengar keterkejutan orang-orang. Mereka diam menatap apa yang terjadi. Sungai sakral itu berubah kotor dan tercemar. Makanan-makanan terbuang percuma.

Keadaan akan penuh oleh kemarahan. Cepat-cepat Rusdi pun berlari dengan cepat melalui jalan setapak desa.

Karena itulah Sang tetua menunjuk Rusdi dengan wajah merah marah, “KEJAR! BAWA IA KEMARI DAN BAKAAARRR!!! ”

Dengan penuh kebencian semua orang mengejar lelaki itu. Bahkan seseorang pun mengambil Busur untuk menyerang Rusdi.  Ketika melihatnya akan berbelok, seseorang melesatkan anak panah yang meleset dan menjatuhkan obor di sebuah rumah yang penuh dengan daun kelapa kering. Tanpa waktu lama, Api membakar cepat.

“Rumahku!!!!… ”

Sorak semarak orang pun membahana di malam itu, mengejar satu manusia. Tak ada yang peduli dengan terbakarnya rumah tersebut.

Rusdi berusaha setenang mungkin dan menemukan ide. Dia mulai lelah. Namun orang-orang telah tertinggal jauh dibelakang. Akhirnya lelaki itu memutuskan berhenti pada suatu bangunan.

“Semoga aman… ” katanya sambil membuka pintu.

Di dalamnya kosong. Hanya ada beberapa kayu tak terpakai dan barel-barel yang berdiri sejajar di kanan kiri pintu. Udara agak terasa pengap. Cahaya bisa masuk melalui ventilasi di atas pintu. Keringatnya bercucuran. Dia mencoba mengumpulkan tenaga nya lagi.

Rasa takut masih merebah di benak Rusdi, membuatnya naik ke barel-barel untuk melihat keluar melalui ventilasi di atas pintu. Tangannya mencoba memegang sisi lubang udara itu dan mengerahkan tubuh serta wajahnya untuk bisa melihat dan mengintip suasana diluar. Ternyata orang-orang berkumpul di luar.

“Mana anak itu?!!! ” teriak salah seorang, mengamati.

Saat itulah kesalahan terjadi. Kakinya tanpa sengaja menjatuhkan sebuah cawan yang ternyata di letakkan diatas barel itu.

“Suara apa itu? ” tanya salah seorang dengan obornya. Yang lain menaruh kecurigaan.

“Kau mendengar dengan jelas, kan? ” tanya Sang tetua di depan rombongan.

“Tentu… ” sahut yang lainnya. Orang-orang sama-sama curiga dan mengiyakan.

Rusdi gemetar, menurunkan tubuhnya dan duduk di atas barel, menghela nafas panjang tanda khawatir.

Dan suara langkah kaki pun perlahan mendekat, menuju pintu.

“Jangan…. Jangan masuk… ” katanya dalam hati penuh harap. Ia berusaha setenang mungkin tanpa membuat gerakan.  Kalau orang-orang menemukannya, pastilah berakhir seluruh rencana dan kehidupannya.

Suara semakin dekat. Dan bunyi dprongan pintu terdengar.

Rusdi terlampau panik, “Jangan masuk!!!! “.  Tak sengaja kata itu terucapkan secara jelas. Spontan suara dari luar terdengar.

“Disini!  Aku menemukannya!!!! ”

“Ayo kita dobrak bersama!!! ”

“Bodoh!  Bodoh sekali… ” Ucap Rusdi menyadari kesalahannya.

GUUBBRAAAK!!!

Pintu terhempas kuat ke tembok. Karena kaget, Rusdi tanpa sengaja menjatuhkan cawan lainnya. Bersamaan, orang-orang pembawa obor masuk menyerbu. Dan jatuhnya cawan itu berisi minyak tanah yang jatuh dan menimpa dari obor-obor itu.

ZRAAAARR!

Sesi pertama api menyambar cepat, membakar tubuh-tubuh manusia yang malang dan tewas oleh bawaannya sendiri. Orang-orang diluar yang belum masuk menghindar secara panik dengan cepat.

Sesi kedua Rusdi melompat ke bawah. Secepat mungkin Ia menghindari api dan membuka jendela. Tanpa memerdulikan suasana, Ia melompat keluar.

Apakah perbuatan ini terlalu kejam?. Memang, namun Rusdi tidak bermaksud melakukannya, hanya mencoba lari dari kemungkaran saja. Namun siapa sangka ini semua bisa terjadi?.

“Apa… ” nafas Rusdi tersendat-sendat, naik turun, “Apa yang kulakukan?.  ” Dengan penyesalan Ia berjalan mengendap-endap melalui belakang bangunan. Dia harus tetap fokus

Teriakan-teriakan manusia yang dilahap api pun terdengar.

“AIR!…..   AMBIL AIR! ”

Kondisi kondisi diluar pun ricuh. Orang-orang ngeri menyaksikan manusia yang terbakar. Dan momen itulah yang dimanfaatkan Rusdi untuk mengendap-endap ke hutan. Tapi sayang sekali,.

“Itu dia!  KEJAAR! ” seorang memergokinya, diikuti oleh sebagian rombongan yang mengejarnya ke Hutan. Sebagian lagi berusaha memadamkan api.

“Sial!”

Tanpa terduga anak panah melesat,  menyibak rambutnya dan meleset pada pohon. Dia terkejut sambil terus mencoba berlari dalam kegelapan dengan bantuan Bulan purnama.

“Untung saja.. ” ucap lelaki itu, sambil memutuskan berbelok.

Jalan yang kini dilaluinya yaitu suatu bagian hutan yang dikatakan larangan dan sering memakan korban. Rusdi tak peduli, terus berlari kesana dengan harapan agar bisa menyamarkan jejak. Karena ini benar-benar gawat.

Rusdi berhenti di tengah Hutan melalui jalan tadi, menghela nafas.  Terdengarlah suara debur ombak di kejauhan, menandakan Ia hampir sampai.

“Sebentar lagi… sebentar lagi Aku sampai! ” katanya sambil menghela nafas.

“Apakah mereka akan menemukanku!? ”

“GRRRR!!! ”

Rusdi terlonjak kaget dengan suara itu. Hampir-hampir Ia terjengkang. Dia tak bisa tak percaya dengan yang didengarnya barusan. Ia mendengarnya dengan jelas. Lagi pula gerakan-gerakan muncul dari pohon-pohon dan tersamarkan oleh gelap. Tapi mata mereka menyala kuning dan jumlahnya puluhan. Dan seluruhnya mendekat kepada Rusdi. Ternyata itulah yag dikatakan sebagai dalang dari Hutan larangan ini.

“Ya Tuhan, apa lagi ini? ”

Rusdi perlahan mundur dengan takut. Masalah nampaknya tak selesai-selesai. Berpisah dari orang, Ia harus menghadapi binatang buas. Dan ini lebih sulit.

Mereka menggeram. Seakan halnya telah siap untuk menerkam. Rusdi tak tahu hewan apa itu. Yang Ia tahu adalah…

“Srash.. ”

Sebuah anak panah melesat, hampir mengenai kepalanya. Rusdi tiba-tiba bersin. Selamatlah Ia dari anak panah yang melesat dan menancap pada salah seekor binatang itu.

“Hah!?”

Serentak hewan-hewan itu memalingkan muka, menatap nyalang ke belakang Rusdi.

“Dia disini!!!! ”

“Cepat Tangkap!!! ”

Kini Ia tahu dua fakta. Yang pertama bahwa orang-orang telah berhasil menemukannya. Dan yang kedua adalah hewan tersebut adalah kawanan Serigala yang  bersiap menyerang. Bukan kepadanya, namun kepada orang-orang yang mengejar Rusdi itu.

“Guk! ”

Seorang yang memimpin di depan dan membawa pelita, segera berhenti dan berbalik mundur menghindar ketika melihat makhluk-makhluk tersebut. .

“LARI!! ADA SERIGALA! ”

Orang-orang pun segera berbalik mundur. Rusdi cepat-cepat menghindar ketika kawanan itu melesat dan menyerang kawanan penduduk yang lari penuh ketakutan. Padahal mereka membawa senjata. Namun apa daya, menghadapi puluhan hewan buas itu sangatlah beresiko karena mereka menyerang secara berkelompok. Apalagi hanya beberapa dari mereka yang berani melawan.

Bertemulah dua kelompok makhluk hidup. Yang satu mundur ketakutan dan satu lagi mengejar penuh nafsu terhadap manusia-manusia itu. Sebagian mereka telah berlari keluar Hutan dengan cepat melalui jalan pintas. Tak disangka, Kawanan itu mengejar jauh sekali.

Saat dalam kondisi panik, setiap Individu lebih mengutamakan keselamatan dirinya. Hal itulah yang dirasakan sang Tetua. Dia tertinggal di belakang karena terjatuh dan jauh dari kelompoknya . Jadilah dia dekat sekali dengan kawanan serigala itu.

“TUNGGU! ” teriaknya, “TUNGGU AKU!!! ”

Sia-sia saja, tak ada yang mendengarkan. Hingga dia tersandung dan jatuh ke tanah. Serigala-serigala buas langsung menerkam dan memangsa manusia malang itu.

“AAAAAAA!!!! ”

Teriakan itu terdengar keras sekali dari dalam hutan. Kemudian perlahan samar, hingga hilang.

“Siapa itu? ” tanya salah seorang di mulut hutan.  Rombongan tersebut telah sampai di mulut hutan setelah berlari penuh ketakutan.

“Pasti… ” Yang lainnya menjawab dengan nafas tersendat-sendat, ” pasti Anak itulah yang dimangsa serigala. Itu hukuman buatnya menodai Sang suci.  ”

Semua orang pun bertanya-tanya penuh penasaran. Ada sedikit rasa takut di hati mereka.

“Mana Tetua desa kita!!? ” Salah seorang pun menyadari dengan penuh kekagetan. Semua orang langsung menatap orang itu dengan perasaan yang sama.

Dibawah pohon-pohon lebat yang membatasi pantai, Rusdi berlari secepat yang Ia bisa, penuh semangat. Sambil menyambut samudra di depannya, Ia bersorak-sorak penuh girang,

“AKU BERHASIL!!!  AKU BERHASIL!!! ”

Kemudian Ia mendorong sampan sampai ke jangkauan ombak di bibir samudra. Dia segera naik kesana dan membiarkan ombak menyeret sampan itu dan Ia ke lautan.

“AKHIIRNYAA ”

Perlahan namun pasti, Rusdi mendayung dan mengarahkan sampannya di atas lautan, menentang kuatnya ombak yang menerjang. Ia sungguh bahagia bisa kabur dari tempat yang hina itu. Saatnya bagi Rusdi untuk kembali ke asal muasal Kampung kelahirannya.

Dan Ia mendayung dengan perlahan diatas lautan luas , dalam nauangan rembulan purnama yang bersinar cerah. Mulailah satu Petualangan baginya, petualangan yang takkan pernah terlupakan diatas ganasnya ombak malam menuju suatu tempat yang Ia tak tahu keberadaannya.

Dan bagaiamana Ia menentukan arah jalannya? Padahal Rusdi tak tahu jalan pulang? Pengalamanlah yang menjadi jawabannya.

Suatu rencana yang sulit dan nampak tak mungkin, kalah oleh tekad dan harapannya pada Sang Esa. Semuanya akan takluk di hadapan kedua itu. Termasuk pula apa yang dialami oleh Rusdi, hingga Ia bisa mengatakan,

“Aku berhasil! ”

Berlayarlah sampan kecil itu dengan seluruh tekadnya di atas lautan yang luas.

Perjalanan inspirasi.