Jiwa Yang Tenang

Pergerakan awan di langit malam itu membawa angin-angin yang menyibak dedaunan. Disambut Sang purnama yang naik takhta kembali dan menggantikan tidurnya sang mentari. Gemerlap bintang pun menyingsing indah. Akan halnya milyaran pelita yang terpasang diatas sana sebagai kasih dari Sang esa. Membiarkan Sang purnama yang nampak termenung kusam dengan suatu arti, memandang seantero bumi yang luas ini.

Apakah Ia memikirkan berbagai sesuatu yang terjadi disana?, Setelah lama menjadi naungan bagi makhluk hidup ketika malam menyergap dengan kegelapannya?. Ataukah Ia menjadi saksi atas seluruh perbuatan manusia yang ceroboh berpaling dari Penciptanya?. Padahal mereka diberkahi dengan akal fikiran yang langka. Dimana mereka  juga diberi derajat tinggi dari semua makhluk. Tapi mengapa Manusia itu justru memalingkan muka ke dunia?.

Entahlah. Terlalu jauh untuk difikirkan. Bahkan lelaki berambut pirang itu pun bingung. Kenapa dia bisa tiba-tiba memikirkan hal semacam itu?.

Kemudian Ia berjalan  dengan pikiran kosong pada suatu jembatan. Hingga menemukan sebuah kaleng minuman yang tergeletak di depannya. Lantas menendangnya. Menjadikan benda itu terlempar masuk ke sungai. Terhanyut.

Sejenak pandangannya teralih pada sungai yang luas. Ia menghentikan langkah, termenung. Hiruk pikuk kota dan lampu-lampunya tergambar dipermukaan. Samar-samar karena kacaunya air yang menggelombang. Namun di jauh sana, Cakrawala bumi membentang luas. Walau terhadang oleh Bangunan-bangunan tinggi yang menjulang ke langit dan terang oleh lampu-lampunya. Ia memandang banyak manusia yang berjalan di muka bumi ini. Begitu pula luas kota yang terekam di matanya. Entah berapa pasti luasnya. Dia tidak tahu.

“Dunia ini sungguh luas…” Gumam sang lelaki lirih. Selanjutnya angin menyibak rambut pirang sedahinya, bersamaan dengan matanya yang memandang lurus ke suasana kota diseberang sana.

Ia mendesah, “Tapi tidak bagiku…”

Wajah Sang lelaki terselimuti pancaran lampu neon didekat pagar jembatan. Terlihatlah raut kusamnya. Pola-pola wajah yang murung. Pandangannya pun menunduk lesu dan menerawang jauh ke kota seberang. Tubuh Anak muda itu berdiri terdiam di tepian sungai. Tanpa satu pun kendaraan atau orang yang peduli padanya.

“Mengapa Dunia ini terasa sempit bagiku?” Tanyanya heran. Penuh kebingungan.

ZZZRRRRRRR….!!!!

Hembusan angin melaju dari kendaraan yang melesat dibelakangnya. Menciptakan bunyi hempasan di udara.

“Mengapa Aku benar-benar merasa seolah alam ini hanya seluas jengkalku?”. Kata-katanya tertabrak angin malam. Menerbangkannya ke udara agar bisa didengar siapapun. Selanjutnya Ia menarik nafas panjang penuh ketidaktenangan, menghembuskannya secara perlahan,

HUUUFFFFFFFFF…..

Sebanyak itu manusia yang lalu lalang dibelakangnya, satu pun tidak ada yang peduli. Dirinya butuh jawaban dari ketidaknyamanan itu. Tentang dunia yang menjadi sempit, kegundahan di hati, dan segala ketidaknyamanan dalam hidupnya. Apakah arti semua itu?

Tapi ia tak kuasa menjawab. Hanya mampu berlalu penuh kebingungan sebelum sosoknya hilang jauh berlalu dalam ketidaknyamanan.

***

IT’S RIGHT OF WHAT CAN MAKES HEART CALM DOWN IS REMEMBER YOUR LORD. AND TAKE YOUR LIFE IN HIM.