Hikmah Pasca Bulan Suci Ramadhan

Penulis: Kang Rohman

Hidup ini silih berganti ada yang datang dan apa pula yang pergi begitu juga dengan Ramadhan yang masih segar dalam ingatan umat Islam. Ada yang bergembira dan ada pula yang bersedih hati, mereka yang bergembira mampu mengoptimalkan Ramadhan sehingga  menuainya di hari fitri. Sedangkan mereka yang  bersedih hati takut  tidak berjumpa lagi dengan  Ramadhan pada tahun-tahun mendatang dan takut tidak bisa berkumpul dengan sanak saudara, keluarga dan orang-orang dekat  yang dicintainya. Dituturkan dalam untaian kata hikmah: Andaikata manusia mengetahui nilai kebaikan yang terdapat dalam bulan Ramadhan, niscaya umatku berharap agar Ramadhan itu dijadikan  satu tahun. Dan andaikata Allah mengizinkan langit dan bumi untuk  berbicara  niscaya keduanya bersaksi untuk orang yang berpuasa di bulan  Ramadhan baginya surga.

Hikmah yang bisa dipetik selama Ramadhan di antaranya, pertama mampu meningkatkan ibadah spiritual sehingga menghasilkan kekuatan iman dan taqwa berlandaskan  tuntunan al-Qur’an, Hadist Nabi dan nasehat-nasehat alim ulama yang mendedikasikan dirinya untuk agama Islam.  Menjadikan hidup semakin intens  untuk senantiasa  dekat dengan pemilik jagat raya ini. Baik dengan meningkatkan ibadah  sosial maupun ibadah ritual, kedua mampu menumbuhkan rasa empati, simpati, toleransi  dan solidaritas terhadap sesama dengan saling membantu dan peka terhadap lingkungan sekitar. Ketiga istiqomah dalam beramal sholih, sabda Rasulullah saw; Amalan sholih yang dicintai Allah adalah yang terus menerus dikerjakan sekalipun sedikit (HR. Bukhari Muslim). Istiqamah dalam beramal shalih mempunyai banyak keutamaan, bermanfaat di dunia dan akhirat. Istiqamah dalam beramal saleh tidak terbatas pada amalan wajib. Yang sunah pun dianjurkan pula untuk istiqomah. Keempat mampu mengontrol emosional (nafsu) agar lebih baik lagi dan tidak terjajah oleh keinginan-keinginan yang tidak terkontrol.

Mengendalikan diri dalam bahasa Islam  dikenal dengan  sabar. Sabar secara etimologi bermakna mencegah dan menahan diri. Sabar secara terminologi diungkapkan oleh  Sahabat Ali Karrama allahu wajhah berkata: “ Ketahuilah sabar termasuk keimanan, ia bagaikan kepala dengan jasadnya, tidak ada keimanan bagi yang tidak bersabar sebagaimana tidak berarti sebuah jasad tanpa kepala, “ sabar adalah tuggangan  yang tidak menggelincirkan.  Imam Ibnu Qayyim berkata “ sabar adalah menahan diri dari berputus asa, meredam amarah jiwa, mencegah lisan untuk mengeluh, serta menahan anggota badan untuk berbuat kemungkaran.

Sabar merupakan akhlak terpuji yang muncul dari dalam jiwa, dapat mencegah perbuatan yang tidak baik.  Sabar sangat dibutuhkan dalam menjalankan perintah Allah, sabar terhadap larangan oleh Islam, sabar dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan menjung tingi kejujuran, sabar dalam memupuk persaudaran dan kesatuan, sabar dalam mendidik dan membimbing anak-anak, sabar dalam bekerja dan berkarya, sabar kita dalam musibah mapun coboan, bersabar atas kenikmatan,  Sabar dalam menuntut ilmu pengetahuan baik pengetahuan seputar agama mapun pengetahuan umum. Sabar tidak mengenal batas usia, ras, warna kulit, setatus sosial dan jenis kelamin. Sabarpun diputuhkan  ketika dalam kondisi appun terlebih lagi dalam kondisi kuat, sehat jasmani dan rohani dan kaya hati dan materi dengan demikian  tidak semena-mena dan menindas yang kecil. Bigitu pula  anak-anak pun dilatih untuk  bersabar pada usia dini .

Kesabaran merupakan dhiya’ (cahaya yang amat terang). Dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menembus batas-batas kegelapan. Diungkapkan oleh al-Hafidz Ibnu Rajab al- Hanbali: “Tatkala kesabaran itu berat bagi jiwa, maka dibutuhkan kesungguhan dalam menahan diri dari apa yang ia senangi, karena itu sabar merupakan sinar penerang”.  Kesabaran merupakan ciri dari orang yang kuat. Rasulullah SAW pernah memberikan perumpamaan yang diabadikan dalam hadits: orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya (menahan amarah)  ketika marah”.

Sabar merupakan salah satu sifat yang terpuji, sifat yang melekat pada hati kekasih-kekasih Allah dalam memperjuangkan, membela dan menyebarkan ajaran-ajaran langit. Ketika “melamar” menjadi murid Khidir, Nabi Musa AS diminta memenuhi satu syarat saja, yaitu sabar. Allah memberikan gelar sebaik-baiknya kepada nabi Ayyub  karena ia seorang yang sabar, ini menunjukkan bahwa orang yang tidak sabar ketika ditimpa musibah maka ia sejelek-jeleknya hamba. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “ Dengan sabar dan yakin, kepemimpinan dalam agama dapat dicapai” 

Al-Quran menegaskan balasan  bagi yang mampu mengendalikan dirinya terdapat dalam  surah az- Zumar 39        “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dicukupkan pahalnya di sisi Allah tanpa batas.” dan dalam surah al-Naazi’ aat: 44Dan adapun orang yang takut kepada kebenaran Tuhanmu dan mampu menahan diri dari keinginan nafsunya.  Maka  sesungguhnya surgalah tempat baginnya .” Hasan Basri berkata: “Sabar adalah perbendaharaan dari perbendaharaan kebaikan, tidaklah Allah memberikannya kecuali kepada hamba-hambaNya yang mulia di sisiNya”.

Al-Quran pun menjelaskan balasan bagi hambaNya yang  tidak mampu mengendalikan dirinya dalam surah  An- Naazi’ ayat: 36-39 “Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sesunggunya nerakalah tempat tinggalnya.” 

Maka, Mudah-mudahan hikmah Ramadhan senantiasa terpatri dalam benak umat nabi Muhamad SAW dan menjadikan segala keberkahan, kebaikan dan keistimewaan Ramadhan sebagai pelita kehidupan. Amiin. Wallahu A’lamu bishawab…..