Tujuan terakhir untuk mencari keridhaan allah

THE LAST DESTINATION TO SEEK ALLAH’S PLEASURE

(Tujun terakhir untuk mencari keridhaan allah)

Page 1

Hari demi hari bulan demi bulan telah berlalu hanya sebuah corat coretan dan kenangan yang bisa kami tinggalkan di pondok itu, mengingat ini hari hari terakhir kami berkhidmat di sana,tak terasa satu tahun sudah berlalu, pagi itu seperti biasanya para pelajar bersiap untuk melaksanakan sholat duha kami para pembimbing mereka bersiap dahulu untuk merapikan shaf untuk mereka. (di kamar pengurus) “hey ayo cepatlah”,temanku berkata, tetapi aku hanya merapikan dasi dan tenggelam di balik cermin yang menempel pada lemari putih yang berukuran 2x1m dan kusam walaupun di dalamnya banyak sekali kenangan, pikiranku hanya berisi tentang “kenapa Allah menciptakan cahaya dan kegelapan, putih dan hitam, baik dan buruk, ataupun pertemuan dan perpisahan” ‘bug’ “Aw sakit tau” Temanku memukulku sambil berkata “ayo kawan kebanyakan mereka sudah di aula” Tanpa basa basi akupun langsung menuju ke aula.

page 2

Tok tok tok……. Suara sepatu para santri yang sedang menuju lapangan ceremony terdengar diseluruh pondok kami para pembimbing mengawasi mereka dari sekeliling lapangan. rasa panas, senang, letih, bahagia bercampur pada hari itu mengingat para pengabdi selanjutnya atau pengganti kami sudah pada posnya, dari arah belakang ada yang mendatangi kami, ternyata si akang, ” Abah memintaku untuk memanggil kalian” Abah dia adalah seseorang yang telah kami anggap sebagai ayah sendiri ketulusan hatinya kebaikannya dan kenangan darinya takkan kami lupakan, sesekali beliau menegur kami tapi teguran beliau tidak langsung ke kami tetapi melalui teteh, karna ketulusan beliau yang sangat tinggi. Dan juga teteh, mereka adalah kakak kami walaupun bukan dari segi keturunan, ketulusan dan kepedulian merekalah yang menambah kepribadian kami, kesabaran mereka tidak ada habis-habisnya, kelakuan kami yang membuat mereka di komplain oleh abah tetap bersabar dan terus membimbing kami.

page 3

Kami pun berkumpul di ruangan berbentuk kubus berukuran 5x5m bercat hijau dan tertata rapi dengan meja kasur dan lemari sebenarnya itu adalah ruang tamu tetapi sejak abah cidera di bangunan baru beliau meminta di pindahkan ke ruang tamu agar mempermudah jikalau ada tamu yang ingin membesuk beliau, dan di sana pun sudah berkumpul lengkap, dari abah, ummi, teteh dan kami para pembimbing. Di ruangan tersebut sunyi tanpa ada suara kecuali beliau yang sedang memberi kesan dan pesan ke pada kami para pembimbing mengingat ini detik-detik terakhir kami mengabdi satu dua patah kata yang beliau berikan kepada kami dan beliau memberikan sedikit waktu kepada kami untuk berbicara apa yang ingin kami bicarakan. sepuluh detik berlalu, satu menit berlalu, tiada yang berbicara saat itu hatiku bergejolak mengingat kesalahan kesalahan yang kami perbuat dan kelakuan kami yang berlebihan, saat itulah keadaan yang hening di hati ku menjadi berlinang oleh kesedihan dan rasa kehilangan, saat aku meminta maaf kepada beliau entah kenapa rasa kehilangan dalam hatiku meluap seketika air mata membanjiri mataku meneteskan kenangan yang telah beliau berikan kepada kami semua, kenangan bersama keluarga beliau, bersama teteh dan yang lainya, serasa berpisah dengan keluarga sendiri, tetapi beliau berkata “sebelum kalian meminta maaf kami sekeluarga sudah memaafkan kalian” Sangat tak tega hatiku berpisah dengan mereka para malaikat tak bersayap memiliki keteguhan dan ketulusan hati, berjuang untuk agama Allah mengajari kami apa itu arti kehidupan sebenarnya , tetapi karna ada tujuan selanjutnya yang harus kami penuhi kami harus berpisah untuk beberapa saat, kelak kami tidak akan melupakan jasa jasa yang telah keluarga beliau berikan kepada kami ada kalanya saat ombak tinggi dan ada kalanya saat ombak itu surut, begitu juga dengan pertemuan, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tidak menutup kemungkinan kami akan bertemu dengan beliau, pasti.. Pasti kami akan bertemu dengan beliau…. Lagi.

 

cerita di atas hanyalah kutipan seorang guru pengabdi yang menemukan secercah harapan kehidupan di pondok tercinta yang mengaku sebagai ‘abdullah’

 

ASSAHIL